Madrasah dan Peradaban: Sejarah, Dinamika, dan Pembaruan Pendidikan Islam

Penulis: Dr. Usman, S.Ag, M.Hum., M.M.
ISBN: xxx-xxx-xxxx-xx-x
Cetakan: Pertama, September 2026/Rabiulakhir 1448 H
Halaman & Ukuran: xviii + 532 hlm, UNESCO (15,5 cm x 23 cm)
Harga Buku: Rp99.999,-
Deskripsi Buku: Buku Madrasah dan Peradaban: Sejarah, Dinamika, dan Pembaruan Pendidikan Islam mengkaji secara komprehensif trajektori historis, epistemologis, dan sosiologis institusi madrasah sejak fase pra-pelembagaan hingga era disrupsi teknologi abad ke-21. Menggunakan lensa sosiologi pengetahuan dan historiografi kritis, karya ini membongkar mitos orientalis yang kerap memosisikan madrasah semata-mata sebagai sarang doktrinasi ortodoksi yang beku, seraya mengkritisi romantisme internal umat yang kerap terjebak pada nostalgia masa silam tanpa pijakan metodologis yang kokoh.
Buku ini menelusuri genesis kelembagaan madrasah dari kuttab dan halaqah masjid, melintasi era formasi formal Dinasti Seljuk melalui jejaring Nizhamiyah, ekspansi keilmuan di Kairo, Damaskus, dan Andalusia, hingga dinamika perjumpaan dengan kolonialisme modern. Dalam lanskap Indonesia, narasi difokuskan pada metamorfosis pesantren dan surau menuju sistem madrasah modern, pergulatan politik hukum pendidikan nasional, hingga integrasi sains dan agama dalam format madrasah unggulan kontemporer. Diperkaya dengan analisis mutakhir mengenai transformasi digital, kecerdasan buatan, dan moderasi beragama, monograf ini menegaskan kembali posisi madrasah bukan sekadar institusi transmisi transmisi doktrinal, melainkan episentrum kebudayaan dan peradaban yang berdaya tahan tinggi (resilient), adaptif, dan berorientasi pada kemaslahatan kemanusiaan universal.
Kehadiran monograf ini didasari oleh sebuah urgensi intelektual mendesak: merekonstruksi narasi sejarah dan epistemologi pendidikan Islam dari jeratan reduksionisme biner yang problematik. Selama lebih dari satu abad, diskursus kesarjanaan mengenai madrasah terbelah ke dalam dua kutub ekstrem yang saling menegasikan. Pada satu sisi, sarjana orientalis generasi awal kerap menstigma madrasah klasik sebagai agen utama pembekuan nalar rasional (incoherence of reason) yang mematikan tradisi sains empiris Islam pasca-abad ke-12 (Goldziher, 1981). Di sisi lain, penulisan sejarah internal di kalangan cendekiawan Muslim kerap terjebak dalam apologetika triumfalis, memandang madrasah semata sebagai institusi sakral yang luput dari dinamika kontestasi sosial-politik, patronase kekuasaan, dan keterbatasan sosio-historis (Makdisi, 1981).
Melalui karya ini, madrasah didekati bukan sebagai anomali historis atau museum pengetahuan kuno, melainkan sebagai entitas sosiologis-epistemis yang terus bertransformasi. Madrasah adalah laboratorium peradaban tempat wahyu (naql) dan akal ('aql), adab dan sains, tradisi dan modernitas berdialog secara intens. Dalam konteks Indonesia kontemporer, madrasah telah membuktikan elastisitas strukturalnya dengan bertransformasi dari entitas pendidikan marjinal di era kolonial menjadi subsistem pendidikan nasional yang diakui secara yuridis dan konstitusional. Eksistensi madrasah riset, kejuruan, dan madrasah berbasis digital hari ini adalah manifestasi konkret dari vitalitas peradaban tersebut. Monograf ini berikhtiar menyajikan sintesis kritis antara ketajaman analisis historiografi, kedalaman filosofis, dan relevansi sosiologis bagi para akademisi, pengambil kebijakan, dan praktisi pendidikan Islam.
Penyusunan monograf ini menggunakan pendekatan multidisipliner yang memadukan historiografi kritis, sosiologi pengetahuan (sociology of knowledge), dan filsafat pendidikan Islam. Kerangka sosiologi pengetahuan digunakan untuk membedah bagaimana pembentukan kurikulum, transmisi sanad keilmuan, dan standardisasi mazhab di madrasah tidak pernah steril dari relasi kuasa (power relations), kepentingan dinasti politik, dan dinamika institusi wakaf sebagai fondasi material pendidikan (Berkey, 1992; Chamberlain, 1994). Sementara itu, pendekatan filsafat pendidikan Islam bertumpu pada dekonstruksi konsep adab, 'ilm, dan ta'dib sebagaimana dirumuskan oleh Al-Attas (1980) dan diartikulasikan kembali oleh Daud (1998/2019), guna melacak ontologi terdalam dari pendidikan madrasah yang membedakannya dari sistem sekolah Cartesian-Sekuler modern.

AFANIN MEDIA UTAMA