Akhlak Tasawuf

Penulis: Dr. Usman, S.Ag, M.Hum., M.M.
ISBN: xxx-xxx-xxxx-xx-x
Cetakan: Pertama, September 2026/Rabiulakhir 1448 H
Halaman & Ukuran: xvi + 386 hlm, UNESCO (15,5 cm x 23 cm)
Harga Buku: Rp99.999,-
Deskripsi Buku: Buku ajar ini disusun berdasarkan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) yang berstandar nasional dan internasional, dengan menekankan pada integrasi keilmuan (integrated knowledge). Pembahasan di dalamnya tidak sekadar memaparkan definisi normatif atau sejarah asketisme Islam, melainkan menguraikan secara mendalam bagaimana bangunan epistemologis akhlak dan tasawuf bekerja sebagai sistem pembentukan karakter (character building) dan instrumen psikoterapi spiritual bagi manusia modern. Setiap bab disusun secara terstruktur, diawali dengan capaian pembelajaran yang terukur, dilanjutkan dengan elaborasi materi yang mendalam, penyajian studi kasus kontekstual yang problematis, rangkuman intisari pemikiran, hingga penyediaan latihan soal esai tingkat tinggi (higher-order thinking skills) untuk menguji daya nalar kritis mahasiswa.
Penyusunan naskah ini melibatkan telaah literatur klasik (kutub al-turats) yang otoritatif, seperti karya-karya monumental Imam Al-Ghazali, Ibnu Miskawaih, Al-Qusyairi, dan Ibnu Atha’illah, yang kemudian dikontekstualisasikan dengan perkembangan teori-teori etika, psikologi transpersonal, dan sosiologi agama kontemporer (Chittick, 2020). Pendekatan interdisipliner ini diambil agar mahasiswa tidak hanya menguasai konsep secara teoretis-kognitif, melainkan juga mampu menginternalisasi nilai-nilai ihsan ke dalam ranah afektif dan psikomotorik. Akhlak tasawuf bukan sekadar cabang ilmu untuk dihafal, melainkan sebuah metode pembinaan diri (riyadhah) dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) yang menuntut pembuktian konkret dalam tindakan sosial sehari-hari, integritas profesional, dan tanggung jawab keadaban global.
Penulis menyadari bahwa sebuah karya ilmiah tidak akan pernah terlepas dari dinamika penyempurnaan. Oleh karena itu, kritik, saran, dan masukan konstruktif dari para pakar, dosen sejawat, serta para mahasiswa sangat kami harapkan guna menyempurnakan edisi-edisi berikutnya. Ucapan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kami sampaikan kepada pimpinan perguruan tinggi, rekan-rekan akademisi, dan seluruh pihak yang telah memberikan dukungan moril maupun intelektual selama proses penulisan buku ajar ini berlangsung. Semoga buku ini dapat menjadi lentera pemandu dalam menumbuhkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual generasi bangsa, serta menjadi amal jariyah yang bernilai abadi di hadapan Allah Swt.
Perkembangan peradaban manusia pada abad ke-21 ditandai oleh lompatan eksponensial di bidang ilmu pengetahuan, otomatisasi teknologi, dan digitalisasi kecerdasan buatan (artificial intelligence). Namun, kemajuan material yang sangat pesat ini tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kualitas moral dan ketenteraman batin manusia. Realitas kontemporer justru memperlihatkan merebaknya krisis multidimensional: alienasi spiritual, degradasi etika publik, kecemasan eksistensial, hingga narsisme digital yang merusak tatanan kohesi sosial (Sirry, 2021). Dalam kondisi krisis peradaban seperti ini, manusia modern kerap mengalami keterbelahan kepribadian (split personality), di mana kecanggihan rasionalitas dan penguasaan sains teknologis tidak dibarengi dengan kebersihan hati nurani dan kematangan spiritual yang kokoh.
Kajian akhlak tasawuf hadir di lingkungan perguruan tinggi bukan sebagai pelarian mistis yang pasif (escapism), melainkan sebagai terapi epistemologis dan ontologis bagi penyakit eksistensial manusia modern. Tasawuf, dalam pengertiannya yang paling murni, adalah dimensi esoteris Islam yang berporos pada doktrin ihsan—sebuah kesadaran eksistensial bahwa segala aktivitas kehidupan senantiasa berada dalam pengawasan Ilahi (muraqabah) (Al-Qusyairi, 2020). Ketika spiritualitas ini diintegrasikan dengan etika akhlak praktis, lahir sebuah paradigma moral teonom terikat yang mampu memandu akal budi manusia agar tidak terjebak dalam jebakan utilitarianisme pragmatis atau relativisme moral yang menafikan nilai-nilai transenden.
Di ranah pendidikan tinggi, mahasiswa dihadapkan pada kompleksitas tantangan global yang menuntut integritas moral tanpa cela. Pelanggaran etika akademik seperti plagiarisme, fabrikasi data, korupsi birokrasi, dan ketidakpedulian sosial merupakan gejala nyata dari rapuhnya fondasi spiritualitas dalam institusi pendidikan. Melalui pembelajaran akhlak tasawuf, mahasiswa diarahkan untuk memahami bahwa ilmu pengetahuan yang bebas nilai dan terputus dari nilai-nilai ketuhanan hanya akan melahirkan keserakahan teknokratis yang destruktif (Zaprulkhan, 2022). Sebaliknya, sains yang dipandu oleh kesucian hati (qalb salim) akan bertransformasi menjadi rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin).
Oleh sebab itu, sistematika pembelajaran dalam buku ini dirancang secara bertahap dan berjenjang. Penulis membagi buku ajar ini ke dalam empat belas bab tematik yang saling berkait kelindan secara logis: mulai dari kajian epistemologi dasar, hakikat distingsi moral-etika, metodologi penyucian jiwa (takhalli, tahalli, tajalli), dinamika tangga spiritual (maqamat) dan pengalaman batin (ahwal), tipologi pemikiran tasawuf dari akhlaki hingga falsafi, sejarah institusi tarekat, pemikiran tokoh klasik dan Nusantara, hingga artikulasi tasawuf sosial dalam menghadapi krisis disrupsi modern. Pendekatan holistik ini diharapkan mampu merekonstruksi kesadaran mahasiswa agar memiliki karakter unggul (karimah), tangguh secara mental, memiliki kedalaman spiritual, serta berdaya saing global dengan pijakan nilai-nilai luhur Islam. 

AFANIN MEDIA UTAMA